Sabtu, 09 November 2013

Kembali

Aku kembali.
Setelah melalui berbagai-atau bisa dibilang hanya satu-kendala yang selama ini menjajah pemikiranku. Denganmu yang selalu menari-nari di dalam ingatanku, dan dengan susah payah aku mencoba untuk melupakanmu tapi ternyata aku tidak bisa. Tidak, sebenarnya bukan tidak bisa, hanya caraku saja yang salah. Aku tidak seharusnya melupakanmu, yang harus aku lakukan itu mengikhlaskanmu.Semuanya

Ya, aku baik-baik saja. Mungkin memang kepastian seperti ini yang dari dulu aku harapkan. Aku tidak harus menunggu (lagi). Aku bisa dengan bebas melakukan apapun tanpa terbeban dengan berbagai pemikiran tentang 'apa yang dia lakukan disana?'
Semuanya telah berubah. Kamu yang telah meninggalkanku terlebih dahulu dan aku harus menanggung luka dan memperbaiki (lagi) kepingan-kepingan hati yang telah kau hancurkan. Tapi tetap saja, aku tetaplah aku dan mungkin aka berubah menjadi aku yang lebih kuat dan bisa menerima kenyataan.
Tidak mudah, memang. Masih ada saja saat dimana aku masih belum bisa mengikhlaskan. Tapi semua ini harus segera berakhir. Tidak ada manusia yang ingin mengulang kembali kebodohan yang sudah mereka lakukan, begitu juga aku. Aku harus bisa kembali. Memposisikan bahwa, aku dan kamu, saat ini bukan sepasang manusia yang mempunyai hubungan spesial.
Bukan masalah besar, ada banyak hal yang bisa aku lakukan. Salah satunya, memikirkan masa depanku. Kehidupanku kelak yang aku yakin akan lebih indah, dengannya. Dia yang menemaniku dalam keadaan apapun, walaupun aku tau, aku belum bisa menjadi orang yang baik untuknya. Tetapi dia berhasil membuatku meninggalkan jejakku yang lalu, bersamamu.

Move on itu nggak gampang, tapi siapa yang tau kalau kita tidak mencobanya?
Aku akan memulai kembali semuanya. Mulai membuka hati dan mencintai orang baru; mencintainya...

Rabu, 16 Oktober 2013

Result

jadiiiiiiii...............
ini hasil yang gue dapet selama berbulan-bulan gue berjuang ibarat mempertahankan sebuah pelangi di malam hari.
bego? mungkin iya. tapi emang ini yang awalnya gue kehendaki.
ga bisa nyalahin dia, dan emang begonya gue ga bisa menyeimbangkan antara logika dengan perasaan.

sekitar dua minggu yang lalu gue masih hobi men-stalking kamu.
awalnya aku pikir itu hal yang biasa, but yeah you know orang yang ga tau keadaan gue juga bisa tau posisinya.
oke, gue tetep stay cool dengan pemikiran, "i'm fine. it will be fine."
tapi lama-kelamaan tetep aja ada perasaan yang ngeganjel di hati gue.
terus gue bisa apa? minta penjelasan? gue siapa ya?
dan ada satu hari dimana-BOOM-bahkan gue ngerasa dunia seketika runtuh di kepala gue.
kenapa? kenapa harus dia? kenapa lo ninggalin gue lagi setelah dulu kamu berusaha mencegak aku untuk pergi? kenapa kamu jahat? kenapa kamu ga mikirin perasaan aku? kamu ga tau kalo aku disini masih nungguin kamu?
yah, kurang lebih dialog itu yang muncul di kepala gue sehari semalem.
gue kurang apa? gue salah apa sampe diginiin lagi? masalah jarak? atau ada masalah lain?
bahkan sampai detik ini aku belum menemukan jawabannya. dan mungkin entah kapan gue bakal dapet jawaban itu.

oke, disini. gue masih berusaha untuk membuat diri gue normal kembali. bertingkah seolah-olah nggak terjadi apa-apa. gue coba. dan gue harap bisa.
gue ga marah. dan mungkin kamu juga tau kalo gue ga bisa marah sama kamu.
cuma aku minta satu ini lagi sama kamu, tolong hargain apa yang udah kamu miliki.
aku ga pengen ada aku-aku-yanglain yang mengalami hal ini.
satu hal yang harus kamu tau, kalau aku menghargaimu.
terimakasih kamu udah mengisi hidup gue selama beberapa bulan belakangan ini.
terimakasih kamu udah menginspirasi tulisan-tulisan di blog gue selama ini.
terimakasih kamu udah pernah ngasih kasih sayang sama gue walaupun ga sepenuhnya.
maaf aku ga bisa jadi orang yang kamu inginkan.
maaf aku ga bisa ada di deket kamu pas kamu butuhin.
maaf atas apa yang udah aku lakuin sama lamu.
semoga saat ini kamu bisa bahagia. bahagia bersamanya.
terimakasih, Ginanjar :)

Minggu, 01 September 2013

Untitled

Pernah ga kalian ngerasain sendiri?
Sendiri dalam artian berbagai hal.
Sendirian dikamar, sendirian di lingkungan, sendirian ngejalanin hidup?
Sadar nggak sadar, seharusnya emang kita harus dibiasakam hidup sendiri.
Kenapa? Kita dilahirkan ke dunia juga sendiri kan? Pengecualian kalo yang anak kembar. Bahkan kita meninggal nantipun kita bakal sendirian.
Terus masalahnya apa?
Masalahnya, manusia itu makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendiri.
Kita butuh manusia yang lain untuk melengkapi dan menjalani hidup.
Tuhan itu baik. Tuhan menciptakan manusia secara berpasang-pasangan.
Tujuannya? Mungkin agar kita tidak sendirian dalam menjalani kehidupan di dunia.
Hanya saja, untuk menemukan seseorang yang telah ditakdirkan Tuhan menjadi pasangan kita itu tidak mudah.
Seperti kita ketahui, hidup itu perjuangan.
Ngejalani semuanya nggak bisa kayak kita ngebalikin telapak tangan. Butuh proses.
Tapi kita mesti tetep inget. Ada awal, ada akhir.
Dulu, gue sempet nulis di note facebook gue dan ada kata-kata dari temen gue yang masih gue inget sampe sekarang.
"Kalo kita berani jatuh cinta, konsekuensinya kita harus berani kehilangan."
Konsep awal, setiap ada pertemuan, cepat atau lambat pasti bakal ada perpisahan.
Ga peduli apa yang memisahkan, hal itu bakal tetep terjadi.
Tugas kita sekarang apa? Jalani dan nikmati apa yang udah dan akan lo dapetin.
Hidup emang cuman satu kali kan?
Tunggu tanggal mainnya, tunggu waktu yang pas, dan tunggu orang yang tepat.
Sedih emang disaat mereka bisa berdua dengan orang yang mereka sayangi sedangkan kita cuma bisa ngeliatin doang. Cuman, gue percaya kalo Tuhan itu baik.
Saat ini mungkin gue belum bisa dapetin apa yang gue mau.
Tapi gue percaya, Tuhan bakalan ngasih kado paling indah buat mereka yang bersabar.
Pasti.

Rabu, 07 Agustus 2013

7 Agustus

Palembang, 7 Agustus 2013
Hari ini, aku kembali mengingatmu.
Kembali mengingat beragam kejadian tahun lalu; antara aku dan kamu.
Rasanya, waktu berlalu begitu cepat.
Atau bisa aku bilang, terlalu cepat.
Sepertinya baru kemarin aku bertemu denganmu.
Baru kemarin juga aku meninggalkanmu, disana.

Bandung, 7Agustus 2012
Selasa itu, sudah seminggu aku berada di kota kelahiranku.
Aku masih ingat pada tanggal 1 Agustus lalu kembali melihatmu.
Tak terasa sudah seminggu berlalu.
Tak terasa juga, ini sudah saatnya aku meninggalkan kota ini untuk kembali beraktivitas di Palembang.
Aku ingat, semalam aku masih bisa bersenda gurau bersamamu.
Melewati malam berdua seperti sepasang kekasih yang sudah lama sekali tidak berjumpa.
Aku juga ingat, betapa senangnya aku saat menghabiskan waktu di Bandung bersamanya.
Sayangnya semua itu terlalu singkat.
Hari ini, 7 Agustus 2012 aku sudah harus pulang.
Betapa sedihnya aku ketika harus meninggalkanmu.
Dan yang lebih menyedihkan, kata-katamu yang mengantar kepergianku kembali ke Palembang.
"I remember last night we are still together."
"Jangan nangis di bandara, nangisnya nanti aja di Palembang. Kesininya nanti lagi aja, sekarang kamu pulang dulu. Love and miss you so much."
"I miss you. Kalau udah mau take off kabarin ya."
"Hati-hati ya. Have a safe flight. Kalo udah di Palembang dan nggak sibuk kabarin aku ya. I will miss you."

Palembang, 7 Agustus 2013
Harus kamu tau, rasanya sekarang aku ingin menangis.
Menangisi apa? Ketidakhadiranmu? Kerinduanku?
Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu.
Bisakah kamu percaya itu?