Kamis, 14 Februari 2013

A (real) Love Letter

Dear you, someone over there...


"Hai sayang. Aku mencintaimu. Semoga kamu baik-baik saja disana.", setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan setiap pagi saat aku membuka mata. Ya, aku sedang tak berada didekatmu. Entah, entah kamu sedang apa disana. Entah kapan juga kita bisa dipertemukan (kembali). 

Sepertinya aku tidak akan berkata banyak, karena aku tak ingin mengganggu kesibukanmu. Ya, aku bisa mengerti keadaanmu disana seperti apa. Aku juga tidak menuntut apapun darimu. Memandangi potretmu sejenak sebelum aku terlelap dan mendengar tawamu yang jauh disana saat berbicara denganku saja rasanya sudah cukup membuatku bahagia. Sesederhana itu. Percaya atau tidak, aku merasakannya. Walaupun aku tau, saat ini aku belum bisa bersamamu. Entah kenapa, aku mempunyai keyakinan, saat yang indah itu pasti akan datang. Hanya waktu yang bisa menentukannya.

Bicara soal waktu, bila diingat sepertinya waktu jugalah yang mempertemukan kita kembali. Aku dan kamu diwaktu yang lalu adalah dua orang manusia yang mungkin tidak pernah berfikir akan bertemu kembali dan berada pada garis rasa yang sama. Ya, Tuhan memang sutradara yang sangat hebat. Pertemuan yang tidak diduga, mengarahkan kita ke dalam frekuensi yang sama. Tapi tidak semudah itu, ada hal yang rumit yang tengah membentang dijalan kita.

Jarak...

Terpisah oleh jarak, kenyataannya berdampak positif dan negatif untukku juga untukmu. Positif karena dengan jarak yang membentang, kita belajar untuk lebih bersabar, lebih menghargai sebuah proses, lebih mengerti dan menerima keadaan. Negatifnya? Mungkin sering terjadi pertengkaran yang disebabkan oleh rasa rindu yang tidak tersampaikan. Antara aku dan kamu sama-sama menjadi posesif. Ya, itulah yang terjadi saat menjalani hubungan ini. Pasti kau tau itu kan, Sayang? Tidak semua orang bisa menjalani semua ini. Kenapa? Karena kebanyakan dari mereka tidak cukup tangguh untuk bertahan dalam keadaan terpisah jarak ribuan kilometer. Tapi kita, aku percaya kita bukan bagian dari mereka.

Tidak, sebenarnya ini bukan hanya karena jarak. Ada hal lain yang lebih rumit yang sedang kita hadapi. Ya, itu tentang kita. Aku tak ingin memperjelasnya dan merusak mood-mu jika aku membahas tentang ini. Aku harap kamu sudah paham dan kita bisa saling menjaga hati masing-masing. Sampai kapan? Akupun tidak tau. Tidak ada diantara kita yang tau. Pertemuan diantara kitapun sebenarnya tidak kita bayangkan sebelumnya, bukan? Aku percaya pada takdir Tuhan. Jadi biarlah semua ini berjalan sesuai cerita yang telah Tuhan berikan untukku, untukmu, untuk kita.

Aku mengerti. Keadaan ini mungkin terlihat rumit bagi sebagian orang. Tapi semoga tidak untukku, untukmu, untuk kita. Aku menganggap, ini hanyalah cara untuk membuat aku dan kamu lebih mengerti arti sebuah proses. Saat aku menunggumu, saat aku merindukanmu, saat aku ingin bertemu denganmu, saat aku bertemu denganmu, saat aku tidak bisa menerima kenyataan, saat aku lelah dengan keadaan, semuanya. Aku mengerti. Jujur, aku tidak bisa membacamu dan akupun tak bisa merasakanmu. Kamu terasa begitu jauh. Tapi aku percaya, kamu bisa mengerti dan menjalani semua ini.

Sayang, mungkin hanya ini yang bisa aku sampaikan. Kau tau bahwa aku mencintaimu. Aku akan tetap menunggumu, aku akan menunggu waktu dimana suatu saat aku dan kamu bisa bersama-sama menjalani ini semua juga menyatukan segala perbedaan yang ada. Aku ingin membuat mereka cemburu. Ya, mereka yang tidak percaya bahwa semua ini akan berakhir bahagia. Aku akan selalu menitipkan sebuah pesan cinta kepada jarak dan tentunya padamu, Sayang :')


From me, who loved you...

Minggu, 06 Januari 2013

Character.

Hello, guys ;)
ga kerasa udah tahun 2013 ya :)
gue mau bilang, selamat tahun baru deh. semoga di tahun baru ini kita bisa lebih baik dari tahun kemarin. amin.

Sekedar intermezo doang ya tadi.
Sekarang gue mau ngebahas tentang.... hmm, apa ya itu namanya. talking, maybe. hmm, speaking, maybe. Whatever.
Menurut gue, tipe manusia di dunia ini ada banyak kan. Hm, contoh simple-nya, sesuai dengan yang mau gue bahas, tentang keterbukaan seseorang. Ada orang yang secara terang-terangan mengungkapkan apa yang mereka rasakan, bahasa kerennya cablak mungkin ya. Tipe orang yang kayak gini merupakan tipe orang yang enak diajak ngobrol. Ngomongin apa aja nyambung, karena dia ga menutup diri dari dunia luar. Cuma, ga enaknya tipe cablak tu, jangan sekali-kali lo nyeritain hal penting ke tipe orang ini. Bukannya nuduh yang nggak-nggak. Cuman kebanyakan, tipe yang kayak gini suka ga sengaja keceplosan ngomong hal yang harusnya dirahasiakan. Antisipasi aja. Tapi balik lagi, tipe cablak enak buat diajak ngobrolin hal yang 'gila'! 
Ada juga orang yang cenderung pendiam dan ga sembarangan mengungkapkan apapun. Apapun itu, semuanya manusiawi lah. Kita juga bisa nemuin karakter itu di setiap orang. Nah, tipe yang ini nih yang harus dibimbing. Tipe ini jarang go public. Mereka hanya berkata seperlunya. Kadang susah, malu, atau bahkan takut untuk mengeluarkan pendapatnya. Sebagian tipe ini hanya mengungkapkan apa yang dia rasain kepada orang yang emang bener-bener dia percaya. Mereka lebih memilih untuk mendengarkan. Makanya itu tipe ini merupakan tipe teman curhat yang baik. Karena lebih suka mendengarkan, tipe ini tipe yang lebih mengerti keadaan. Mereka bisa baca situasi, walaupun tindakan yang mereka lakukan tidak terlalu banyak dan membantu.
Dan kadang juga, ada orang yang bisa menempatkan dirinya, dimana dia harus banyak bicara, dimana dia harus diam. Gue cukup yakin, orang yang mempunyai kedua karakter itu merupakan orang yang lumayan sulit ditebak. Ditebak apanya? Pemikirannya, tindakan yang akan dia lakukan. Karena suatu waktu dia bisa banyak sekali berbicara, dan kadang bisa dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Hilang. Ya, buat menghadapi orang yang seperti ini emang sulit sih menurut gue. Awalnya kita harus mempunyai satu pemikiran dengan dia. Jika tidak, ya kata gue tadi. Lo ga bakalan ngerti apa maunya dia. Diibaratin kayak bunglon deh, bisa berubah sesuai keadaan. 
Sebenernya gue ga maksud apa-apa sih. Cuma mau nulis apa yang gue tau aja tentang karakter orang. Salah satu dari ketiga itu ada karakter gue lo (ya iya lah). Hayooo, kalian masuk kategori yang mana? Semoga bermanfaat ya :)

Jumat, 14 Desember 2012

SKY!

Langit...
Apa yang ada di pikiran kalian kalo ngedenger kata itu? Mungkin yang terlintas di benak kalian adalah matahari, awan, bintang, dan lain sebagainya. Tapi menurut gue, langit menyimpan semuanya. Semua yang kita rasakan-sadar atau tidak sadar-ada pada langit. 

Di langit, ada matahari. Sumber cahaya semua makhluk hidup. Gue mengibaratkannya sebagai sumber kekuatan dalam kehidupan. Bisa itu dari kepercayaan kepada Tuhan, atau kalian bisa mengibaratkanya sebagai orang tua yang selalu membimbing kalian. Terserah. Itu hanya masalah imajinasi. Di langit juga ada bulan. Benda langit yang selalu didampingkan dengan matahari, walaupun mereka tidak pernah bersama-sama. Gue mengibaratkannya sebagai orang-orang yang menyayangi kita. Saudara kandung, keluarga, bahkan sahabat. Mereka ada untuk memberi penerangan dikala malam. Siang dan Malam. Dua kata yang berbeda, tapi mempunyai keindahan yang sama. Mereka bisa membuat diri mereka indah.
Pada Siang hari, kita akan menemukan banyak hal. Gue mengibaratkan hal tersebut sebagai 'mood' seseorang. Contohnya, kita bisa menemukan pelangi pada pagi-siang-sore hari. Siapapun orang yang menyukai keindahan langit, mereka akan sangat menikmati jika melihat pelangi. Kenapa? Karena pelangi tidak setiap saat muncul. Gue ibaratkan, pelangi itu sebuah kebahagiaan. Bisa muncul setelah ada perjuangan untuk melewati fase-fase. Di langit, fase itu adalah hujan. Jika kita menikmatinya, sebenarnya hujan juga punya arti. Ya, banyak orang yang mengatakan hujan sebagai suatu kesedihan. Sama seperti kehidupan, setelah ada kesusahan -cepat atau lambat- akan muncul yang namanya kebahagiaan. Sama dengan yang ada di langit, pelangi akan muncul setelah hujan datang.

Pada malam haripun sebenarnya sama, keindahan itu ada. Salah satunya bintang. Bintang adalah benda langit yang bisa memantulkan cahayanya sendiri. Mereka tidak akan ada artinya jika hanya satu. Keindahan itu ada, bila di langit terlihat banyak bintang. Damai. Indah. Kalo bayangan gue, bintang itu diri gue sendiri dan bintang lainnya itu orang yang gue cintai. Gue ga bakal ada artinya kalo hanya gue sendiri yang ada di langit. Ga indah. Bintang yang berlimpahan hanya akan terlihat jika langit malam cerah. 
Ya, antara siang dan malam ada satu kesamaan. Mereka akan memancarkan keindahan lebih jika langit cerah, dan keindahan itu akan berkurang jika langit mendung. Cerah dan mendung, gue ibaratkan sebagai senang dan susah. Keduanya saling ketergantungan. Saling berhubungan. Cerah akan datang setelah mendung, dan saat mendung bisa berubah jadi cerah. Sama seperti kehidupan, senang bisa berubah menjadi susah dan susahpun bisa berubah sebaliknya. Tapi itulah hidup. Semua yang kita lewati setiap saat adalah keindahan. Keindahan yang di hadiahkan Tuhan kepada kita untuk dinikmati. Sadar atau tidak, semua keindahan itu hanya Tuhan yang menciptakan. Tinggal bagaimana kita menjalani dan menikmatinya.
Gue bersyukur hidup di dunia yang mempunyai langit seindah Bumi. Semua hal yang ada di hidup gue, selalu gue ibaratkan dengan langit. Dan itu nggak ngebuat gue jadi susah menjalaninya. Langit akan tetap sama walau apapun yang menerpanya. Gue juga gitu kan? Apapun yang terjadi, gue ya tetep kayak gini :)

Selasa, 20 November 2012

INTRAPRIBADI!

akhir-akhir ini gue emang udah jarang nge-blog. entah karena gue yang sibuk (atau mencoba untuk sibuk) atau emang gue ga mau nyempetin buat nge-blog. tapi kenapa sekalinya gue nge-post malah tengah malem gini ya? *oke, lupakan*
gue barusan abis ngomong sama diri sendiri, "sebenernya lo mau apa? sekarang lo aneh! lo lebih aneh dari makhluk paling aneh!"
"gue capek, gue capek ada di kondisi seperti ini."
"kondisi seperti apa? apa yang ngebuat lo capek?"
"banyak yang bilang gue orangnya tertutup. sebenernya gue bingung, definisi sifat yang tertutup itu kayak gimana. karena sepengetahuan gue, gue ga sepenuhnya tertutup (menurut gue). gue masih sering kok berkomunikasi secara langsung sama semua orang. cuman, batasan komunikasi gue sama orang lain itu lebih terbatasi. capek. apa yang gue terima dari mereka itu ga sebanding dengan yang gue kasih. apa itu termasuk tertutup? membatasi diri?"
"lo mau hidup sendiri? emang bisa lo hidup sendiri?"
"jujur, emang gue butuh sama orang lain. butuh banget malah. cuman, ya itu. kenapa? kenapa feedback yang gue dapet ga sama? gue suka mikir, apa yang salah sama diri gue sampe semuanya tuh kayak ga sesuai sama apa yang gue harapkan."
"yaudah, lo ga harus nyalahin siapa-siapa. mau digimanain juga, lo ya tetep lo. ga ada yang bisa ngerubah diri lo selain lo sendiri. pikirin apa yang emang layak dan harus kamu pikirin dan jangan terlalu membebani pikiran lo dengan hal-hal yang ga ada manfaatnya buat lo. inget itu!"

setelah mengeluh dan memarahi diri gue sendiri. seenggaknya pikiran gue udah jauh lebih terbuka. dan emang kayaknya gue harus sering-sering komunikasi sama diri sendiri :")